Monday, May 17, 2010

SUPER INDONESIA : Bagaimana Shofwan Al-Banna Choiruzzad Mengalahkan Harvard




Generasi muda Indonesia terus menunjukkan kekuatannya di arena-arena bergengsi internasional. Makin hari makin banyak saja anak-anak muda Indonesia yang mengharumkan nama besar Republik Indonesia di tingkat dunia dalam berbagai bidang, terutama sains dan teknologi. Mereka menunjukkan bahwa bangsa kita tidak tertinggal, kita tidak terbelakang, kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menaklukkan dunia.

Salahsatu generasi baru Indonesia yang unggul itu adalah anak muda lulusan Universitas Indonesia, Shofwan Al-Banna Choiruzzad. Di 2009 kemarin ia berhasil menjadi juara dunia kompetisi internasional tentang ekonomi global di Swiss. Shofwan tidak hanya menjadi juara, tapi mengalahkan peserta dari Harvard University, dan lebih dari 200 peserta terbaik lainnya dari seluruh dunia.

Ia meraih prestasi membanggakan itu di sebuah ajang penting, yaitu di St. Gallen Symposium di Universitas St. Gallen Swiss. Ini adalah salahsatu universitas paling bergengsi di Eropa. Simposium itu dihadiri oleh 600 pemimpin bisnis dan politik serta 200 intelektual muda. Tujuannya adalah untuk menjalin komunikasi dan mencari terobosan-terobosan baru dalam dunia ekonomi global.

Yang hadir disana antara lain Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz, Kepala Japan Bank for International Cooperation Hiroshi Watanabe, Presiden Serbia Boris Tadic, Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath, Menteri Keuangan Singapura Shanmugaratnam, sampai Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Hiroyuki Ishige.

Dari kalangan bisnis hadir wakil dewan direktur FIAT, CEO Price Water House Coopers, CFO Airbus, sampai Pimpinan Dewan Direktur Embraer Brazil. Selain itu juga hadir para ilmuwan pemenang Nobel seperti Robert Aumann, jurnalis seperti Riz Khan dari Al Jazeera dan Peter Day dari BBC dan juga Presiden Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) Torsten Akesson.


Dalam ajang tersebut juga diadakan kompetisi penulisan dengan tema trend globalisasi terutama tentang pembatasan-pembatasan yang banyak muncul akibat persaingan global yang makin keras.

Shofwan membuat tulisan yang berjudul

"Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors". Tulisan ini mengalahkan karya Jason George dari Harvard "A Strategic Balancing Act", dan karya Aris Trantidis, "Building Bridges or Raising Barriers: Reconfirming the Boundaries between the State, the Market and Society" (London School of Economics and Political Science). Benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan kita sebagai bangsa Indonesia.

Bagaimana cara mengalahkan mahasiswa Harvard?

Mudah.

Kalau anda banyak membaca buku-buku terbaik dari para ilmuwan dan intelektual terbaik di dunia, anda bisa sama cerdasnya dengan mahasiswa Harvard. Kalau Anda belajar dengan penuh semangat demi masa depan negaramu yang hebat, dan demi kedua orangtuamu yang kamu cintai, maka kamu akan bisa lebih hebat dari mereka.

Ingatlah bahwa bangsa ini juga didirikan oleh para Bapak Bangsa yang tidak kalah hebatnya dibanding para pemimpin-pemimpin terbesar Amerika sekalipun. Terus berjuang! Masa depan baru bangsa ini mungkin akan segera datang tidak lama lagi.

5 comments:

Hilmy Nugraha said...

aku tau ni bang sofwan,
dia penulis buku juga..

aku punya 2 bukunya...

terbitan pro u media...


wah kereeen lah..

semangat indonesia..

Anonymous said...

bang shofwan emang keren bgt..
beliau juga mahasiswa berprestasi tingkat UI dan nasional, penulis buku juga, terus pendiri sebuah lembaga keislaman di asrama UI. Sangat menginspirasi. ketika saya pertama masuk UI pun, beliau selalu diundang jd pembicara..
keren bgt kisah hidup dan prestasinya.. Semangat terus bang dan selamat juga atas kelahiran puterinya.. semoga bisa mnjadi mujahidah tangguh seperti abi dan uminya.

ita.titik said...

ijin copas bagian akhir artikel ini...
terima kasih ^__^

ega said...

Salam..!

Bang, tulisannya boleh gak saya publikasikan di media Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) dengan tetap mencantumkan sumber dan penulisnya? Terima kasih.

Best regards,
Ega

Eko said...

Buat Ega, tentu saja boleh. terimakasih sudah berkunjung. Salam, Eko Laksono.