Friday, July 10, 2009

Cerita Wayang Pandawa Vs Kisah Epik "The Lords of The Rings"


Cerita Wayang Vs “The Lords of The Rings”

Yaksa, sesosok makhluk aneh setengah dewa bertanya :
”Siapa musuh paling sulit dan terberat untuk bisa dikalahkan, dan penyakit apa yang paling sulit disembuhkan? Manusia seperti apa yang dianggap terbaik, dan mana yang paling buruk?”

Ksatria Yudistira menjawab:
”Musuh tersulit yang bisa dikalahkan adalah kemarahan. Penyakit yang paling sulit disembuhkan adalah nafsu harta. Manusia terbaik adalah yang mencintai semua makhluk, dan yang terburuk, adalah mereka yang tidak mengenal belas kasihan.”

Lakon Mahabharata


Saya sangat menyenangi “The Lord of The Rings”.

Cerita epik karya J.R.R Tolkien ini begitu heroik, mistikal, fantastis. Ini adalah cerita pertarungan terbesar antara Kebaikan melawan Kejahatan.

Para ksatria-ksatria besar manusia, Bangsa Elves, dan Dwarf, bersatu dan berjuang mati-matian melawan sang Raja Kegelapan Sauron yang akan bangkit kembali. Benar-benar luar biasa.



Tapi, itu sebelum saya mengenal dunia pewayangan..
Lihat saja perbandingan dua gambar ini.













Ya, cerita wayang Pandawa Mahabharata yang baru saja saya kenal ternyata jauh, jauh lebih dahsyat. Levelnya sangat philosophical, menyentuh sisi kemanusiaan yang terdalam. Dan pertempurannya tentu saja juga jauh lebih hebat dan mengerikan.

MAHABHARATA
bercerita tentang perseteruan besar antara para ksatria Pandawa dengan kaum Kurawa, padahal mereka sebenarnya bersaudara. Karakter-karakter tokoh wayang sangat kompleks. Baik para Pandawa dan Kurawa mengalami perjalanan mistikal yang panjang dan dramatis yang membentuk jiwa mereka.

Ada kebaikan, keburukan, kepedihan, lalu kebijaksanaan dan kekuatan raksasa yang timbul dari pencarian jati diri mereka. Mereka harus menghadapi musuh yang sakti, ujian berat para dewa, bertarung dengan raksasa, ular naga, makhluk-makhluk halus, dan terutama, menghadapi segala kelemahan dalam diri mereka sendiri yang justru paling mematikan. Nilai-nilai kemanusiaannya sangat kental dalam cerita ini.



Dan pertempurannya pun jauh lebih dahsyat dari ”The Lord of The Rings”. Dalam ”The War of The Ring” terjadi pertempuran besar-besaran yang melibatkan persatuan berbagai ragam bangsa dengan ratusan ribu pasukan dan monster-monster mengerikan pendukung Sauron. Mereka adalah para ksatria yang sangat ahli dalam menggunakan pedang (Aragorn), panah (Legolas), dan kapak (Gimli dan bangsa Dwarf).

Tapi para ksatria Pandawa, Kurawa, dan ratusan ribu pendukungnya bertempur habis-habisan menggunakan kekuatan sakti yang mistikal. Kekuatan penghancur setara dewa-dewa. Mereka bisa terbang dengan ajian sakti, berubah menjadi raksasa sebesar gunung, kebal senjata tajam, mendatangkan Naga dan Rhaksasa, dan bahkan kekuatan lain yang lebih mengerikan.



Padang Kurusetra, Baratayudha


Ksatria Pandawa dikisahkan sebagai ksatria-ksatria sejati. Pemberani, baik hati, selalu membela yang lemah, berilmu tinggi, halus tutur katanya, dan rela mati demi membela kebenaran. Tapi walaupun mereka adalah pangeran keturunan raja, sejak kecil mereka hidup menderita. Inilah yang akan membentuk kebijaksanaan dan kekuatan mereka.

Dan Kurawa adalah sebaliknya. Mereka adalah kumpulan dari segala hal yang buruk dalam jiwa manusia. Dan walaupun mereka bersaudara, Kurawa bersumpah mati akan menghabisi para pangeran Pandawa.

Penampilan wayang yang ditampilkan dalam kegelapan, hanya berupa bayangan tokohnya dari api obor kecil biasanya justru malah memperkuat aura misteri dari penceritaan wayang itu. Dan kalau anda melihat seorang dalang senior, dia bukan hanya seorang tukang cerita, tapi seorang manusia istimewa, seorang guru yang telah mendapatkan ilmu dan kebijaksanaan berusia ribuan tahun.

Untuk lebih mengenal cerita wayang Mahabharata, inilah gambaran singkat para tokoh-tokohnya, selamat menikmati.

PANDAWA LIMA

Yudistira, Raja Paling Adil dan Bijaksana :
Ksatria Yudistira kakak tertua para Pandawa. Dikenal sangat pemberani dan tidak kenal takut, tapi tidak suka bermusuhan, selalu lebih suka menjalani jalan damai. Perkataannya selalu jujur, tidak pernah sekalipun berdusta. Senjata pamungkasnya yang paling sakti adalah Kitab "Jamus Kalimasada" yang misterius. Walaupun penyabar, saat melihat ada ketidakadilan besar dia bisa sangat marah dan berubah menjadi raksasa berwarna putih dengan ajian bernama Ghundawijaya.

Bima, Ksatria Raksasa :
Bertubuh tinggi besar, kuat seperti raksasa. Wajahnya garang dan menakutkan, tapi hatinya sangat baik. Kalau berbicara tidak pernah basa-basi dan kadang terdengar kasar, tapi ia selalu berkata kebenaran. Bima tidak takut pada siapapun, bahkan para Dewa. Dari semua Pandawa Lima, Bima adalah satu-satunya yang bisa terbang. Senjata utamanya adalah Gada Rujakpala yang mengerikan, dan Kuku Pancanaka yang sangat tajam dan bisa membunuh naga. Nantinya dia akan punya seorang anak yang sangat sakti dan juga bisa terbang, namanya Gatotkaca.

Arjuna, Ksatria Sempurna :
Arjuna, adalah ksatria perkasa yang paling sempurna. Berhati luhur, berparas sangat rupawan, tutur katanya halus, tapi begitu kuatnya sehingga tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Arjuna selalu memperdalam ilmunya dengan berlatih dan bertapa kepada Tuhan, sehingga kesaktiannya sulit ditandingi. Arjuna adalah pemanah terhebat tanpa tanding. Senjata utamanya adalah Panah Pasopati, yang ujungnya berbentuk bulan sabit dan sangat mematikan. Dia juga memiliki ajian Seipi Angin, yang membuatnya bisa berlari secepat angin.

Nakula, Ksatria Paling Tampan :
Nakula adalah ksatria muda yang paling tampan, bahkan Putri Drupadi mengakuinya. Dia seringkali senang membanggakan ketampanannya. Tapi Nakula adalah pangeran yang rajin, berdisiplin, giat bekerja, jujur, dan sangat setia pada saudara-saudaranya, bahkan rela mati demi membela mereka semua. Nakula adalah ahli pedang tertangguh diantara Pandawa.

Sadewa, Ksatria Termuda, dan Paling cerdas :
Sadewa adalah yang paling muda dari semua Pandawa, tapi justru yang paling cerdas. Bahkan Yudistira pernah berkata bahwa kebijaksanaan Sadewa tidak ada tandingannya dan hanya setara Brihaspati, guru para Dewa-dewa. Sadewa dikenal sebagai ahli dalam ilmu tentang perbintangan (astronomi).


KAUM KURAWA


Dretarasta :
Ayah para Kurawa, penguasa Astina, kakak dari Pandu yang buta sejak lahir. Beristri Gendari yang darinya mendapat 100 orang anak, kaum Kurawa. Walaupun buta, dia sangat sakti dan mempunyai ajian Lebur Sakethi, segala sesuatu yang diremasnya, manusia atau besi, akan langsung hancur berkeping-keping.

Mami Gendari :
Ibu dari kaum Kurawa yang penuh dendam. Dia marah luar biasa pada Pandu, ayah Pandawa, karena bukannya dinikahi, tapi malah diberikan pada raja Dretarasta yang buta. Dia mengajari anak-anaknya untuk selamanya membenci para Pandawa.

Paman Sengkuni :
”Ular” yang paling licik dan hipokrit. Sengkuni adalah adik Gendari dan paman dari Kurawa dan Pandawa. Bersama Gendari, dia menghasut para Kurawa untuk membenci dan akhirnya menghabisi semua putra Pandawa.

Duryudana :
Anak tertua dan bos para Kurawa. Waktu kecilnya sering bermain bersama para Pandawa. Tapi ibu dan pamannya membuatnya jadi anak yang licik, pembohong, sombong, bengis, jahat, kejam, manja, belagu, matre, dan sangat bernafsu pada harta dan kekuasaan.

Dursasana :
Adik Duryudana yang sangat berbahaya. Badannya besar dan doyan perempuan. Juga sangat licik dan tidak punya perasaan. Seringkali malah lebih jahat dari kakaknya Duryudana.


PARA TOKOH BESAR LAINNYA


Ayah Pandu Dewanata :
Ayah para Pandawa, beristri Kunti dan Dewi Madrim. Dari Kunti dia mendapat anak Yudistira, Bima, dan Arjuna. Dari Dewi Madrim, dia mendapat si kembar Nakula dan Sadewa. Dia dihukum dewa terjun ke kawah Candradimuka dan langsung tewas seketika, saat para pangeran Pandawa masih kecil. Para Pandawa sudah menjadi anak-anak yatim sejak kecil.

Ibu Kunti (Dewi Prita) :
Istri pertama Pandu, ibu dari Yudistira, Bima, dan Arjuna. Setelah Dewi Madrim meninggal, dia juga merawat Nakula dan Sadewa dengan penuh kasih sayang.

Dewi Madrim :
Istri kedua Pandu, ibu dari Nakula dan Sadewa. Ikut meninggal bakar diri saat suaminya Pandu dihukum para Dewa. Saat itu Nakula dan Sadewa juga masih kecil, dan telah menjadi yatim piatu.

Prabu Kresna :
Manusia paling sakti di seluruh jagat. Paman dari Pandawa ini merupakan titisan Dewa. Dialah raja Dwarawati, yang memiliki pasukan terbesar dan terkuat di seluruh dunia pewayangan. Kesaktiannya diantaranya bisa melihat masa depan, berubah menjadi raksasa, bahkan mampu membangkitkan orang mati dengan kembang Wijaya Kesuma. Kresna bahkan mempunyai senjata pamungkas ”Cakrabaswara” yang bisa digunakan untuk menghancurkan Bumi.

Resi Bisma :
Bisma adalah sang maha dahsyat. Dia adalah kakek yang dicintai para Pandawa dan Kurawa. Sejak muda sudah dikenal sakti, sangat sakti bahkan bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Begitu saktinya, bahkan Yudistira pernah mengatakan, walaupun seluruh kekuatan Laskar Dewa dan Laskar Asura (para Raksasa, kekuatan kejahatan) bersatu, kekuatan Kebaikan dan Keburukan bergabung, dan dipimpin sendiri oleh Indra sang Dewa Perang, mereka tetap tidak akan mampu mengalahkan Sang Bisma.

Bisma hidup seorang diri dan bersumpah tidak akan menikah. Bisma, selain ahli perang terbesar, juga dikenal sangat adil. Tapi sayangnya karena ia sudah bersumpah sampai mati akan selalu membela Astinapura, sedangkan Astina dikuasai Kurawa, maka ia terpaksa berdiri di pihak Kurawa dalam perang Barathayudha (masukan dari Mbak Vina dan Bung Salman, trims ya).

Resi Dorna :
Guru perang dan persenjataan utama Pandawa dan Kurawa di masa remaja. Dia sangat sakti, sekaligus congkak, sombong, dan banyak omong. Dia mempunyai ilmu panah pamungkas ”Sapta Tunggal”, dimana dia bisa menembakkan 7 panah sekaligus ke sasaran. Dorna sebagai guru hanya mau mengajari murid dari kasta Satria. Walaupun kelakuannya minus, dia sangat menyayangi Arjuna, muridnya yang terbaik, seperti dia juga sangat menyayangi anaknya sendiri, Bambang Aswatama.

Begawan Krepa :
Krepa adalah begawan yang sedemikian saktinya sehingga tidak bisa dibunuh siapapun, bahkan oleh ksatria paling sakti sekalipun. Dia adalah salahsatu makhluk abadi yang akan hidup sampai akhir zaman. Guru dari Pandawa dan Kurawa muda, mengajarkan agama, hukum, dan tata negara.

Srikandi :
Istri Arjuna yang super cantik. Dia adalah salahsatu ksatria pemanah terbaik dan juga belajar dari Arjuna. Di saatnya nanti, Srikandi yang cantik akan menjadi salah seorang Panglima utama dalam perang besar Baratayuda.

Drupadi :
Inilah wanita paling cantik jelita di seluruh jagat raya. Dia diperebutkan oleh semua ksatria dan raja-raja, termasuk Pandawa dan Kurawa.

Raja Drupada :
Ayah dari Drupadi dan Srikandi. Ksatria pendukung Pandawa.

Antareja :
Ksatria muda ini memiliki kesaktian yang mengerikan. Siapapun yang dijilat oleh lidahnya, bahkan hanya tapak kakinya, akan langsung mati begitu saja. Dia anak dari Bima dan Dewi Naganini. Walaupun begitu dia adalah anak yang pendiam dan sayang pada semua orang. Karena terlalu sakti, sampai Resi Kresna menyuruhnya untuk mengorbankan dirinya sendiri, sehinga perang Baratayuda bisa berjalan seimbang sesuai keinginan para Dewa.

Gatotkaca :
Tentara elit pasukan udara Pandawa. Berotot kawat, bertulang besi, dan separuh raksasa. Gatotkaca bisa terbang melesat setinggi-tingginya ke langit dan terjun menghunjam ke Bumi menghancurleburkan musuh-musuhnya. Anak Bima dan Dewi Arimbi dari bangsa raksasa, sehingga diapun bisa berubah menjadi raksasa sebesar gunung. Pakaian saktinya adalah Kotang Antrakesuma yang membuatnya bisa terbang, dan di saat gelap memancarkan cahaya terang yang menyilaukan. Ajiannya yang sangat terkenal yaitu ajian Brajamusti, yang membuat kekuatannya berlipat-lipat, dan tubuhnya menjadi seperti perisai besi yang kebal senjata. Saat Perang besar Baratayudha, Gatotkaca masih berusia muda.

Adipati Karna :
Anak kusir, dan sering disepelekan orang, tapi dia belajar sekuat-kuatnya sampai akhirnya punya kemampuan memanah yang hanya bisa ditandingi sang Arjuna. Karena cuma anak kusir, dia ditolak untuk berguru pada Resi Dorna, lalu berpihak pada Kurawa. Belakangan diketahui ia ternyata manusia setengah dewa, anak tertua dari Kunti yang diberi anak oleh Batara Surya, sang dewa Matahari. Karena dia anak tertua Kunti, berarti dia adalah kakak dari Yudistira.

Resi Seta :
Pemimpin perang Pandawa pertama dalam perang Baratayudha. Sangat sakti, sifatnya pemberani, tenang, dan sabar.

Abimanyu :
Di perang Baratayudha ksatria Abimanyu usianya masih 16 tahun. Tapi dia sudah ikut membela Pandawa dan bertempur dengan gagah berani. Anak kesayangan Arjuna dari dewi Sembadra. Sifatnya halus, tapi hatinya keras dan pemberani. Kalau ngamuk, kekuatannya akan setara dengan Arjuna, dan tidak takut melawan ksatria-ksaria besar musuh ayahnya.

Bambang Irawan :
Anak Arjuna dari istri Dewi Ulupi. Seperti Abimanyu, saat perang Baratayuda ksatria ini juga masih belasan tahun. Sangat sakti dan bisa mendatangkan Naga untuk melawan musuhnya.

Salya (Prabu Salyapati) :
Penguasa ilmu Candrabirawa, paman para Pandawa. Ajian Candrabirawa dapat merubahnya jadi raksasa setinggi gunung. Sedangkan ajian Bala Srewu, jika mantranya dikeluarkan, atau darahnya menetes, maka beribu-ribu raksasa kerdil akan keluar dari dalam tubuhnya dan menyerang musuhnya. Hanya ajian paling sakti yang bisa menjatuhkan seorang Prabu Salya. Dia pendukung Pandawa tapi tertipu oleh para Kurawa sehingga terpaksa harus membela Kurawa.





Dan bagaimana kisah perjuangan para Pangeran Pandawa melawan Kurawa? Tunggu kelanjutannya.



(Terimakasih buat Rizky)

14 comments:

Rizky said...

wah, rizky nggak ngapa2in kok ditulis namanya...

mas, parikesit nya belum?

Vina said...

Salam,
Setahu saya...kebetulan saya juga penggemar wayang....Bisma tidak tergoda dengan kekayaan Kurawa. Bisma bertahan di Hastinapura dan berperang melawan Pandawa karena dia membela Hastinapura yang sangat dia cintai, bukan karena Kurawa.
Hal lain, Adipati Karna itu adalah anak Dewi Kunti dan Batara Indra, bukan Batara Kala.
Sumber yang saya baca itu cerita wayang karangan RA Kosasih, jadi mohon maaf kalau yang ditulis sumbernya lain.

Eko said...

hai mbak Vina, trims sudah berkunjung. terimakasih juga buat masukannya soalnya saya juga baru belajar. setelah saya cek, ternyata Karna memang bukan anak Batara Kala tapi Batara Surya, dewa matahari. makanya nama kecil karna adalah suryaputra. untuk bisma saya kira anda benar, Bisma memang mencintai Astina, dan akan membela Astina apapun yang terjadi. nanti saya cek lagi ya. Trims 2x, salam Eko.

retsa said...

dimana bisa baca cerita lengkapnya ya?? kayanya saya tertarik,pasti seru..

Eko said...

halo retsa, anda bisa melihat cerita singkat para ksatria besar pandawa dan kurawa di wikipedia indonesia : pandawa (http://id.wikipedia.org/wiki/Pandawa#Riwayat_singkat). di gramedia juga ada buku bagus berjudul bharatayudha (karya gamal komandoko), ttg pertempuran terbesar dan final dalam cerita mahabarata. trims.

My Blogger said...

saya sayngat setuku dengan Vina , mengenai adipati karna. Dia pun berperang di pihak kurawa bukan karena kebencian dengan pandawa(adik satu ibu). tetapi justru karena "cinta" kepada adik2nya dan "balas budi" kepada kurawa yang mewisudanya menjadi kasta "satria" , tetapi pada saat turun ke medan perang , seluruh senjata dan ilmu kedigjayaanya di copot , agar adik2 nya bisa menang.

Anonymous said...

salut untuk semua... hehe.. dah pada baca "Manyura" karya yanusa nugroho, atau "Kitab Omong Kosong" karya Seno Gumira Ajidarma..??? lumayan.. biar ada prespektif lain dlm memahami cerita Mahabarata/Raamayana... hi... tengkyu...

Bung Salman said...

Salam,

Saya juga penggemar wayang. Betul itu yang dikatakan mbak Vina dan My Bogger. Eyang Bisma berperang di pihak Kurawa (Hastina) lantaran dia bersumpah akan membaktikan hidupnya untuk Hastina. Nah, karena pada Baratayudha kerajaan Hastina dikuasai Kurawa, maka Bisma seakan-akan berada di pihak Kurawa.

Mengenai Karna, betul dia lahir dari telinga Kunti, karenanya dia diberi nama Karna.

Wah, membaca tulisan mas Eko ini, saya juga pingin nulis tentang wayang ini...

Eko said...

Hai Bung Salman, anda dan Mbak Vina benar. mohon maaf karena karena saya baru belajar dan mencoba mencintai wayang yg memang dahsyat betul. saya sudah koreksi silakan dilihat ya. mohon kalau ada masukan lagi, dan ditunggu tulisan wayangnya lho mas, kalau bisa kita sebagai sama-sama anak muda kita populerkan wayang lagi ke seluruh Indonesia. setuju nggak? salam dahsyat, eko laksono.

fera putri ayu lestari said...

setuju mas eko...
mari kita galakkan budaya bangsa ini, agar tidak punah termakan intimidasi budaya barat.
^_^V

tapi satu pertanyaan yang mengganjal, sebenarnya cerita pewayangan ini sebuah kisah nyata ataukah hanya mite saja???
trims.

Lae said...

anu mas tambahan atu lagi,...kurawa jumlahnya 100 orang.
99 lanang kabeh 1 wedok..

Anonymous said...

Maap mas..numpang lewat.. ada yg mau ditambahin nih mas..
1. Bima, sejauh saya ketahui tidak bisa terbang, jika dia loncat memang sangat tinggi dan jauh, tp bukan terbang, kecuali anaknya Gatotkaca.
2. Gandari sendiri sebenarnya tidak diberikan kepada Dasarata, tapi justru Dasarata yg memilihnya karena Gandari menggunakan wangi amis ditubuhnya pada saat pemilihan calon istri dasarata. Dewi kunti dan madrim meminta pada dewata agar diberikan wangi yg tidak disukai oleh Dasarata, karena Dasarata dahulu kala pernah menitis seekor dewa Naga, jadi naga itu sangat menyukai bau amis.
3.Pandu Dewanata tidak pernah memiliki anak karena kutukan seorang resi yg tewas oleh panahnya pada saat resi tersebut sedang berhubungan intim dengan istrinya dalam wujud 2 ekor kijang agar tidak ada gangguan. Kutukan itu menyebutkan Pandu akan mati pada saat ingin menikmati hubungan suami istri dengan salah satu istrinya Pandu.
4. Sedangkan pada pandawa sendiri tidak lahir dari benih Pandu, tetapi melainkan hasil anugrah para dewa dengan kekuatan gaibnya.
Yudistira adalah berasal dari Betara Dharma, Bima dari Betara Bayu, Arjuna dari Betara Indra, sedangkan Nakula sadewa dari Betara Aswin.
Yudistira, Bima dan Arjuna anak dari Dewi Kunti, Nakula Sadewa dari Dewi Madrim.
5. Srikandi sendiri memiliki keanehan dengan hidupnya. Sebenarnya Srikandhi ini adalah seorang perempuan, tapi kemudian menjadi seorang laki-laki atas bantuan seorang Pendeta dari kaum raksasa. Baru diketahui perubahan wujud itu dimaksudkan untuk membayar sumpah dari Dewi Amba yg tewas secara tidak sengaja oleh panah Bisma ketika masih muda dahulu. Bisa dibayangkan betapa malunya seorang kesatria besar seperti Bisma yg harus tewas oleh seorang wanita. Maka takdir mengatakan lain, Bisma akhirnya harus tewas ditangan Srikandi saat Perang Besar Bratayudha.
Dan pada saat itulah Dewi Amba bertemu kembali dengan pujaan hatinya Resi Bisma.
6. Adipati Karna dahulu kala sudah dibelit dengan baju tamsir yg tidak bisa lepas dari tubuhnya. Sehingga tidak ada senjata sekuat apapun yg bisa membunuhnya. Betara Surya sadar bahwa anak tercintanya tersebut suatu saat akan didatangani oleh Betara Indra yg juga ayah dari Arjuna. Kedua Betara/Dewa ini masing-masing sangat mencintai anaknya. Betara Indra mengetahui bahwa suatu saat nanti bila perang Bratayudha meletus, dan Arjuna akan berhadapan dengan Karna, maka sulit bagi para Pandawa untuk memperoleh kemenangan. Sehingga suatu hari Betara Surya menemui Karna dan berpesan apabila ada seorang resi/pendeta (resi itu adalah Betara Indra yg menyamar) meminta baju tamsir tersebut maka Karna harus menukarnya dengan Senjata Konta, yaitu senjata berbentuk tombak pendek yang tidak ada satupun yg bisa menghalangi utk membunuh musuh pada saat dilemparkan. Namun pada saat Perang Bratayudha ternyata Gatotkaca berusaha menghalangi Karna utk membunuh Arjuna dengan membuat kesal Karna dan akhirnya senjata Konta itu dilepaskan Karna yg sudah sangat emosi dengan Gatotkaca, dan akhirnya Gatotkaca pun terbunuh.

Anonymous said...

Catatan aslinya dari India,, kal yg disini bisa dibilang melenceng,,

Djati said...

Menarik sekali Ulasan Mas Eko.
Nambahi sedikit, Mas.
1. Setuju dg anonymous bahwa Bima tdk bisa terbang. Ksatria Pandawa yg bisa terbang adalah Arjuna. Dalam cerita pewayangan Jaws, Bima adalah satu-satunya Ksatria Pandawa yg tidal per ah menaiki kereta kuda dan atau kuda/hewan tunggangan lainnya.
2. Kresna bukanlah Paman Pandawa, tetapi kakak sepupu Pandawa dari pihak ibu (Dewi Kunti adalah adik Basudewa ayah Kresna), dan juga kakak ipar dari Arjuna (Sumbadra adalah adik Kresna).