Tuesday, August 18, 2009

Indonesia 2010, Bangsa Para Juara : Susi Susanti



"Champions aren't made in gyms. Champions are made from
something they have deep inside them - a desire, a dream, a vision.
They have to have last-minute stamina, they have to be a little faster, they have to have the skill and the will.
But the will must be stronger than the skill".
Muhammad Ali


Apa yang ada dalam pikiran para Juara terbesar?

Para olahragawan terbesar dalam sejarah dunia, ”The Greatest Olympians”, seperti sang petinju terbesar Muhammad Ali (The Greatest) yang kekuatan pukulannya begitu hebat sampai ”mampu merobohkan bangunan”. Atau Lance Armstrong, pembalap sepeda yang memegang rekor juara Tour de France 7 kali berturut-turut, padahal, dia menderita kanker.

Atau pelari Carl Lewis, raksasa yang memenangkan 9 emas Olimpiade dan 8 emas kejuaraan dunia (sering dianggap sebagai ”Olympian of The Century”). Atau para atlet besar lain seperti Michael Jordan, Tiger Woods, Roger Federer, Michael Phelps (renang, rekor 15 emas Olimpiade), atau Michael Schumacher.

Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik, yang terkuat dari yang terkuat, yang tercepat, dari semua yang tercepat di planet Bumi. Manusia-manusia Superhuman dengan kekuatan jauh diatas manusia normal.

Apa yang menciptakan kekuatan besar mereka? Keinginan yang begitu dahsyat, Willpower, untuk berjuang habis-habisan dan menjadi yang terbaik? Apa yang membuat mereka senang melakukan pengorbanan-pengorbanan terbesar, dan menikmatinya? Apa sebenarnya impian mereka dan bagaimana membuatnya jadi kenyataan?

Di Indonesia, kita juga punya banyak juara, bukan juara Indonesia tapi dunia. Ada petinju Chris John yang tangguh (WBA Super-Champion), binaragawan Ade Rai (Juara Dunia Musclemania 1996 dan 2000 mengalahkan banyak binaragawan dari negara-negara maju), dan tentu para atlet bulutangkis kita yang heroik.

Rudy Hartono menjadi juara All England sampai 8 kali (1968-1976). Kekuatan besar macam apa yang ada dalam dirinya sampai mampu menjadi juara tak tersaingi sampai 8 kali? Dan bulutangkis, adalah salahsatu olahraga terhebat, karena memerlukan kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan strategi sekaligus.

Liem Swie King juga juara dunia puluhan kali, yang bahkan pernah menantang Rudy Hartono di final All England waktu usianya baru 20 tahun! Liem Swie King mungkin sudah berlatih secara spartan sekelas juara dunia waktu masih belasan tahun. Benar-benar menakjubkan.

Dan salahsatu yang terbesar, dan paling berkesan dalam hati banyak orang Indonesia tentu adalah Susi Susanti, peraih pertama medali emas olimpiade bagi Indonesia, pertama kalinya sepanjang sejarah Indonesia, di Barcelona, 1992.

Kita semua ingat peristiwa itu. Salahsatu momen yang paling menggetarkan jiwa kita bangsa Indonesia. Bulutangkis, adalah olahraga paling digemari di Indonesia, semua orang memainkannya. Dan ini adalah final kejuaraan antar bangsa yang terbesar.

Disini Susi harus berhadapan dengan rival terkuatnya dari Korea, Bang Soo-Hyun. Dari semua kejuaran dunia, ini akan menjadi yang paling prestisius. Kedua pemain dan kedua bangsa, sama-sama memimpikan kemenangan ini. Dan setelah berjuang secara dramatis, Susi-lah yang akhirnya merebut medali tertinggi olahraga dunia itu bagi Indonesia. Indonesia menang!

Benar-benar saat yang mengharukan, ketika Susi Susanti akhirnya naik diatas panggung kehormatan Olimpiade itu, sang Merah Putih dikerek ke atas dengan gagah, dan lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya" mulai diperdengarkan.

Jiwa ke-Indonesiaan kita tersentuh. Kita benar-benar bangga sebagai orang Indonesia. Saat itu kita seperti diingatkan kembali, bahwa kita adalah bangsa para juara, bangsa pemenang, bangsa yang besar.



Dan itu menjadi sempurna karena Alan Budikusuma juga mempersembahkan medali emas bulutangkis putera bagi Indonesia. Lengkaplah kejayaan Indonesia.

Tidak hanya emas Olimpiade, Susi Susanti juga nyaris mendominasi bulutangkis dunia dalam jangka waktu yang cukup panjang. Menjuarai puluhan kejuaraan dunia, termasuk All England, dan merebut Piala Uber sepanjang awal 1990-an. Saat itu, Susi Susanti adalah yang terbesar.

Gayanya sangat tenang. Nyaris tanpa emosi, tapi serangan smash-nya cepat dan mematikan seperti ular kobra, kelenturannya seperti batang bambu yang tidak terpatahkan, penempatan bolanya sulit ditebak, dan keteguhannya sekokoh benteng batu yang nyaris tidak tertembus. Smash, lob, rally, dropshot, netting yang sangat tipis dan menegangkan, semuanya dilayani sampai lawannya tidak berkutik.

Bahkan dari sejak kelas 2 SMP, Susi Susanti sudah tahu apa impiannya. Dan Susi yang masih sangat belia itu sudah berani mengambil keputusan besar. Ini dunianya dan dia ingin jadi yang terbaik. Dia pun masuk ke Pelatnas dan tinggal di asrama, memulai proses pembentukannya yang spartan.


Bagaimana para Juara Dunia berlatih?



Sejak remaja, Susi sudah berlatih di Pelatnas. Jam 7 pagi Susi dan teman-temannya sudah bersiap-siap di lapangan. Latihan awal ini berlangsung sampai jam 11 siang. Lalu dilanjutkan lagi dengan latihan sore dari jam 3 sampai jam 7 malam. Ini dilakukan 6 hari dalam seminggu, dari Senin sampai Sabtu kecuali Minggu.

Makan harus yang bergizi tinggi, tidak boleh sembarangan. Tidur harus diatur, tidak boleh terlalu malam. Tidak ada asyik ngobrol dengan teman sampai larut, tidak ada nonton tivi sampai ngantuk. Disiplin adalah kekuatan. Dispilin adalah keunggulan. Disiplin, adalah kemenangan.

Tidak ada waktu sedikitpun untuk main-main kalau ingin jadi juara. Tapi demi impiannya, apapun dilakukan dengan senang hati dan semangat tinggi, dan Susi tahu dia bisa meraih impian besarnya itu. Sementara para remaja kecil lain mungkin masih sibuk bermain-main, Susi kecil sudah berlatih secara spartan.

Susi dikenal sebagai yang paling disiplin. Dia tidak hanya ingin mendisiplinkan dirinya sendiri, tapi ia ingin menjadi contoh bagi yang lainnya, contoh yang terbaik. Ia ingin mencontohkan disiplin yang begitu hebatnya, sehingga yang lain akan bangkit semangatnya untuk berdisiplin seperti dirinya. Dan yang lain pun mengikutinya. Sebuah pemikiran yang besar, mulia, bijaksana dan benar-benar efektif. Sebuah nilai kepemimpinan yang unggul.

"The Mind of A Champion"

Tapi apa yang membuat seseorang mempunyai mental juara seperti itu?
Kenapa seseorang ingin melakukan semua pengorbanan yang berat itu? Kenapa? Darimana awal datangnya?

Mungkin semua petualangan besar itu dimulai dari cinta, dari senang. Mereka senang berolahraga, senang main bulutangkis sejak kecil, mereka menikmati berkumpul bersama teman-temannya main bulutangkis, tertawa bersama-sama dan kadang saling menggoda.

Dan dengan sedikit dukungan semangat dan teknis yang baik, mereka menjadi lebih unggul dan bisa merasakan sesuatu yang istimewa dalam hidup, menang. Dan menang itu enak. Sedangkan kalah, tidak terlalu enak, jadi mereka jadi selalu ingin menang. Keinginan untuk menang melahirkan ambisi, keinginan besar menjadi juara.

Mungkin mereka juga senang menonton pertandingan para juara besar sebelumnya. Seperti kata Isaac Newton sang penemu, ”The Giants”, orang-orang besar belajar dari orang-orang besar sebelumnya (Standing on the shoulders of Giants).

Mungkin Susi Susanti dan Alan Budikusuma waktu kecil senang menonton pertandingan Rudy Hartono dan Liem Swie King. Dan mereka termimpi-mimpi ingin jadi seperti para bintang pujaannya itu, yang menjadi juara, menjadi yang terhebat, melanglang buana mengharumkan nama bangsa dan dipuja-puja banyak orang. Mungkin itu. Atau mungkin karena mereka mencintai orangtua mereka dan ingin membuat mereka bangga. Mungkin itu. Desire, Dream, Vision..

Pembentukannya yang keras membuatnya jadi punya mental juara, fisik yang prima, dan juga daya juang yang heroik, bahkan sejak masih di usia sangat muda. Salahsatu bukti kebesaran Susi Susanti adalah kegemparan yang terjadi di Piala Sudirman, Mei 1989 di Istora Senayan...


Keajaiban di Sudirman Cup, 1989.


Banyak orang yang mungkin sulit percaya hal itu bisa terjadi. Dan mungkin ini adalah salahsatu peristiwa paling menakjubkan sepanjang sejarah sport dunia.

Sudirman Cup adalah piala beregu seperti Thomas dan Uber Cup, tapi campuran, laki-laki dan perempuan. Di final Indonesia berhadapan dengan Korea, yang baru saja berhasil mempermalukan raksasa China. Stadion Istora Senayan dipenuhi ribuan pendukung fanatik Indonesia yang mengibarkan-ngibarkan bendera kecil Merah Putih.

Awal yang kurang beruntung bagi tim Indonesia. Malam itu, di dua partai pertama, Indonesia langsung tertinggal 0-2. Pasangan Eddy Hartono / Gunawan dalam pertempuran yang sengit dikalahkan ganda legendaris Korea, Park Joo Bong / Kim Mon Soo 9-15 15-8 13-15. Verawaty Fajrin / Yanti Kusmiati ditaklukan Hwang Hye Young / Chung Myung Hee dua set langsung, 12-15 6-15. Satu partai lagi buat Korea, dan semuanya akan berakhir. Para penonton Indonesia sudah hampir kehilangan harapan.

Di partai ketiga yang menentukan, turun bertanding pemain muda cemerlang, Susi Susanti, umurnya baru 18 tahun. Dia akan melawan Lee Young Suk. Masih begitu muda, tapi nasib Indonesia sudah ada di pundaknya.

Sayang, set pertama Susi dikalahkan dengan angka tipis 10-12. Dan di set kedua, para pendukung Indonesia sudah putus harapan. Susi tertinggal jauh, dari 0-1, 0-5, 0-7, sampai akhirnya 2-10.

Hanya tinggal 1 angka lagi. Semua penonton sudah tertunduk lesu, kita sudah kalah. Beberapa penonton terlihat sudah mulai meninggalkan tempat duduknya. Tapi sesuatu terjadi.

Susi tidak menyerah, dia tidak mengendurkan semangatnya sedikitpun. Malah walaupun ini akan jadi satu angka yang terakhir, justru dia akan bertempur habis-habisan. Pemain Korea itu tidak akan menang dengan seenaknya. Walau hanya 1 angka, Susi akan menunjukkan pada dunia bahwa dia tidak pernah menyerah begitu saja. Dan pelan-pelan, angka Susi bertambah. Satu poin, demi satu poin. Penonton terheran-heran, apa yang terjadi?

Tapi angkanya terus saja bertambah, dan penonton mulai bangkit lagi harapannya dan bertepuk tangan. Perlahan-lahan muncul rasa bangga di hati mereka melihat perjuangan Susi Susanti. Mereka tahu, bahwa walaupun kalah, Susi akan menjadi juara di hati mereka, pahlawan mereka yang tidak pernah menyerah, demi Indonesia.

Tapi angka Susi Susanti terus bertambah, malah makin mendekati angka Lee Young Suk. Pemain Korea itu mulai terlihat gugup, dan penonton Indonesia makin terbakar semangatnya. Apakah mungkin kali ini Susi akan menang?

Dan akhirnya keajaiban pun terjadi! Susi memperkecil ketinggalan angkanya sampai akhirnya dia menyamakan kedudukan, 10-10! Dari 2-10, jadi 10-10! Benar-benar sebuah daya juang yang tiada bandingannya.

Sekarang sudah tidak ada lagi yang mampu menghentikannya. Lee sudah jatuh mentalnya. Dia mungkin juga tidak habis pikir apa yang terjadi. Dengan serang-serangan yang mematikan Susi akhirnya menyudahi pertarungan dramatis itu, 12-10.

Dan di set ketiga, daya juang Lee sudah lenyap. Susi membantai Lee tanpa ampun 11-0, tanpa perlawanan. Ada cerita mengatakan bahwa pimpinan pelatih Korea kalap dan frustasi sampai dia kehilangan akal, menyumpah-nyumpahi Lee Young Suk bahkan memukulnya di depan banyak orang.

Setelah pertarungan ini, seluruh tim Korea kolaps. Tim Indonesia sudah benar-benar diatas angin. Edy Kurniawan menang telak dari Han Kok-Sung 15-4 dan 15-3. Ganda campuran Eddy Hartono / Verawaty menghabisi Park Joo Bong / Chung Myung Hee 18-13 dan 15-3. Indonesia berjaya. Kita menang!

Anda bayangkan Korea yang sekarang negerinya sangat maju, bisa dihancurkan semangatnya oleh para pemain bulutangkis Indonesia.


Bangsa Bermental Juara


Dan sejak itu Susi Susanti menjadi bintang besar, bahkan terbesar di dunia bulutangkis. Dia akan menjadi orang Indonesia pertama yang mendapat medali emas Olimpiade, ajang olahraga terbesar di dunia, di Barcelona 1992. Dia bahkan merebutnya bersama Alan Budikusuma, sekarang suaminya yang tercinta. Pasangan Emas Olimpiade, sesuatu yang mungkin belum ada dalam sejarah olahraga dunia.

Saat kepulangannya dari Barcelona Susi dan Alan disambut dengan sukacita ribuan penggemarnya yang mengelu-elukannya sepanjang perjalanan. Itu mungkin adalah salahsatu pesta penyambutan terbesar yang pernah ada sepanjang sejarah Indonesia.

Susi Susanti bukan hanya orang yang sangat penting. Dialah pahlawan besar Indonesia. Dialah yang menunjukkan kepada dunia Indonesia adalah bangsa pemenang, bangsa besar yang harus diperhitungkan. Dialah yang memberikan rakyat harapan, kebahagiaan yang meluap-luap yang bahkan tidak mungkin diberikan oleh pejabat terpenting manapun. Indonesia, Bisa! Indonesia Menang!

Susi Susanti berlanjut memenangi puluhan kejuaraan bulutangkis bergengsi di seluruh dunia, berbagai kejuaraan Grand Prix, dan dua kali mempersembahkan Piala Uber untuk Indonesia. Membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia, seperti yang sebelumnya telah dilakukan para pahlawan besar olahraga kita, oleh Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Pantang menyerah. Daya juang. Pertandingan belum berakhir sebelum pertandingan berakhir. Pengorbanan demi kebesaran nama bangsa dan negara Indonesia yang harum. Itulah kekuatan karakter yang dibutuhkan generasi baru Indonesia. Dan itu adalah jiwa yang bisa dibentuk, dibangkitkan. Caranya adalah dengan belajar dari para juara, Champions, para Juara Dunia.


Kenapa Susi tidak menyerah di Piala Sudirman ’89 ?
Karena walaupun 1 angka sekalipun, dan walaupun kalah, kalah adalah juga pelajaran, dan itu penting. Jadi tidak perlu patah semangat.



Mungkin bila kita belajar lebih banyak dari Susi Susanti, kita akan tahu cara menciptakaan ribuan atau bahkan jutaan calon-calon juara dunia bagi Indonesia. Manusia-manusia terunggul bermental juara yang pantang menyerah, punya impian-impian besar dan selalu ingin menjadi terbaik, terbaik di dunia.


7 comments:

Tito said...

Terimakasih tulisannya, memang Susi Susanti layak terus kita bicarakan dan ingat-ingat. Kami di www.rantang.com.au juga menulis mengenai Susi, dan mencantumkan pranala ke tulisan anda.

Eko said...

Terikasih juga Tito. Trims juga sudah mampir. Salam, Eko.

meilia said...

Susi Susanti's great .. hopefully there will be children of other nations Indonesia can continue accomplishments,,

Koje said...

Wow... Merinding baca tentang SUSI... hehehe.. Thanks yaa...

ricad said...

Wow Bro...
sampe keluar airmata gw bacanya..
sangat memotivasi kaum muda kita..
dan sangat mengharukan perjuangan Susi dulu..
Bravo Eko!
Bravo Susi!
Berjayalah INDONESIA!

Made Ary Prawira said...

Susi Susanti sungguh sangat membanggakan, Ia patut mendapatkan pnghargaan The Badminton Hall Of Fame pd tahun 2004.
Sungguh sangat berharap pmain Indonesia kedepan bisa meneladani Susi Susanti. Karna tiap nonton bulutangkis selalu diakhiri dngan kekecewaan karna akhir2 ini pmain Indonesia selalu dikalahkan oleh pbulutangkis China n Korea Selatan..

anggietaprima said...

Susi Susanti bagi saya adalah sosok yang sangat inspiratif.Selama bertahun-tahun, determinasi dan keuletannya menginspirasi saya untuk berdisiplin, dan kemenangan-kemenangan gemilangnya menginspirasi saya buat tidak ragu-ragu bermimpi ( dan tentunya berusaha maksimal mengejar mimpi-mimpi itu). Sekarang pun, setelah Susi tidak aktif lagi sebagai pemain, kesederhanaannya tetap jadi hal yang inspiratif buat saya. Bahwa memang suatu saat, ada masanya kita harus mundur ke balik layar. Kenyataannya, Susi sama sekali belum dilupakan. Contoh kecil saja, setiap kali ada polling tentang siapa perempuan Indonesia yang paling berprestasi di bidang olahraga, namanya belum tergantikan!