Monday, March 9, 2009

MENJELANG KEBANGKITAN INDONESIA, Kumpulan Artikel Terbaik Kompas


Menjelang Kebangkitan Indonesia, Jacob Oetama, Pendiri Kompas


Bagaimana seandainya?

Bagaimana seandainya banyak orang Indonesia, dan terutama kaum intelektual, ternyata sudah tahu bagaimana caranya Indonesia bisa bangkit? Tidak saja bangkit, tapi bangkit menjadi sebuah bangsa besar dan sangat unggul di dunia?

Mereka mempelajari bangsa-bangsa terbesar dalam sejarah manusia, dan mendapatkan Rahasianya. Rahasia menjadi bangsa terunggul di dunia. Apa rahasianya bangsa-bangsa maju? Kenapa mereka yang dulu tertinggal dan terbelakang, bisa berubah, dan menjadi bangsa terunggul di dunia? Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan oleh para pemimpin mereka?

Anda, akan mendapatkan jawabannya dalam kumpulan tulisan-tulisan terbaik ini.


"Afhankelijkheid"
Kompas, Sabtu, 20 Desember 2008
Sri-Edi Swasono

Tentu menyedihkan saat beberapa pekan lalu saya memberi kuliah tamu di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Seoul. Saat itu seorang mahasiswa bertanya, ”Prof Ahn Young Ho 30 tahun lalu bilang kepada murid-muridnya di HUFS bahwa Indonesia amat berpotensi menjadi negara maju di Asia.

Kini Prof Koh Young Hun, salah satu murid Prof Ahn Young Ho 30 tahun lalu itu, mengatakan kepada kami hal serupa, Indonesia amat berpotensi menjadi negara maju. Mengapa berpotensi melulu, kapan majunya?”

(Untuk lanjutan selengkapnya, lihat link di bawah).


"Menjelang Kunjungan Hillary Clinton"
Selasa, 17 Februari 2009, 23:57 WIB
Abdillah Toha


Seberapa pentingkah Indonesia bagi AS? Pada November 2008, National Intelligence Council (NIC) AS merilis Global Trends 2025: ”A Transformed World”. Dokumen setebal 99 halaman yang bersifat unclassified itu menyebut potensi Indonesia untuk berperan penting pada dekade mendatang, masa-masa saat hegemoni AS dan Eropa menurun.

Signifikansi potensi Indonesia secara khusus dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan yang secara umum memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, seperti Singapura dan Malaysia. Singapura secara singkat disebut sebagai salah satu bentuk kapitalisme negara (state capitalism), sementara Malaysia dipandang sebagai negara yang produksi sumber daya alamnya kian menipis.


"Abad Pertarungan Talenta"
Sabtu, 27 Januari 2007
Siswono Yudo Husodo


Tahun 1943, PM Inggris Winston Churchill di Harvard University, AS, mengatakan, "The empires of the future will be empires of the mind. The battles of the future will be battles for talent" . The old battles for natural resources are still there, but they are being supplemented by new ones for talent; not just among companies, but also among countries (which fret about the "balance of brains").


"Indonesia dan Politik Waktu"
Jumat, 13 Februari 2009, 00:21 WIB
Oleh Geger Riyanto

Empat puluh dua tahun lalu, Richard Nixon sebagai Presiden AS dengan jelas mendefinisikan Indonesia: dengan 100 juta penduduk beserta jajaran pulau sepanjang 300 mil yang mengandung sumber daya alam paling kaya di kawasannya, Indonesia merupakan hadiah terbaik di Asia Tenggara. Indonesia adalah sebuah hadiah bagi kekuatan-kekuatan besar itu.


"Menembus Pandang ke Tahun 2030"
Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Kompas
Jumat 19 Mei 2006

Tahun 1800, Amerika Serikat lebih miskin daripada Kuba dan Argentina, tetapi AS kini menjadi begitu kaya. Kenapa? Tahun 1960-an Jepang adalah negara miskin, dan barang-barang bikinannya sangat dihina. Namun, kini semua mengakui Jepang sebagai negara hebat. Mengapa?


"Kompetisi Menuju 2030"
Agnes Aristiarini
Jumat, 19 Mei 2006

Kamboja, misalnya, tahun 1200 termasuk negara terkaya. Demikian juga Peru dan Meksiko yang sangat mencengangkan pada tahun 1500, atau Lebanon yang makmur pada tahun 1960-an. Sekarang mereka termasuk negara yang kekurangan. Sebaliknya Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura yang dulu miskin kini menjadi negara kaya yang memengaruhi dunia. Mengapa?
Jawaban kedua persoalan itu ternyata sama..

Tim Olimpiade Fisika Indonesia, misalnya, dalam kurun waktu 12 tahun telah mengirim 70 siswa yang berasal dari berbagai daerah: dari Banda Aceh, Pematang Siantar, Magelang, Kediri, Gianyar, sampai Jayapura. Dari jumlah itu sudah diperoleh 22 medali emas, 11 perak, dan 34 perunggu.

Para pemenang Olimpiade Fisika ini kini tersebar di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia dan menunjukkan prestasi luar biasa. Ada yang PhD pada usia 23 tahun, lulus S1 pada usia 16 tahun, dan menjadi profesor usia 25 tahun. Semua itu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang amat tinggi.


"Iptek, Politik, dan Politisi"
Rabu, 25 Februari 2009, 04:01 WIB
Ninok Leksono

”Hanya ilmu pengetahuan sajalah yang dapat memecahkan masalah-masalah kelaparan dan kemiskinan, insanitasi dan buta aksara, takhayul dan hilangnya adat istiadat, habisnya sumber daya, atau sebuah negeri kaya yang didiami oleh penduduk miskin…. Siapakah sesungguhnya yang sanggup mengabaikan iptek sekarang ini? Pada setiap kesempatan kita pasti membutuhkan bantuannya.... Masa depan ditentukan oleh iptek dan orang-orang yang bersahabat dengannya.
(Jawaharlal Nehru, dikutip dari ”India Perspectives”, 8/2008)

Ketika era semakin sarat diwarnai pemanfaatan iptek, tiadanya visi iptek di kalangan elite tak jarang lalu membuat bangsa kedodoran ketika menghadapi berbagai fenomena perubahan alam, kemajuan iptek, juga impitan krisis ekonomi. Hal itu masuk akal karena sendi-sendi kehidupan berbangsa—yang salah satu fundamentalnya adalah iptek—amat rapuh di sini. Salah satu indikator yang sering disebut-sebut adalah rendahnya anggaran iptek yang kurang dari 0,5 persen produk domestik bruto. Sementara negara yang berambisi menjadi negara maju, seperti China, terus menaikkan anggaran ipteknya.


"Budaya Unggul dan Investasi SDM"
SURYOPRATOMO

Rosihan Anwar menunjuk India sebagai contoh. ”Lima puluh tahun lalu ketika India memutuskan untuk fokus pada human investment, banyak negara yang mencemooh. Untuk apa melahirkan banyak doktor, sarjana di bidang keuangan dan bidang sains, kalau negaranya tetap miskin,” kata Rosihan.

Cemoohan itu, menurut Rosihan, wajar muncul karena kaum intelektual India itu tidak mendapatkan tempat di negerinya. Bangsa India justru berdiaspora, bertebaran di banyak negara, bekerja di negeri orang.

”Ketika jumlahya masih terbatas dan lapangan kerja di dalam negerinya masih terbatas, orang India yang pintar-pintar terpaksa pergi ke Amerika, ke Inggris, ke Australia untuk bekerja. Tetapi ketika critical mass-nya tercipta, India bisa membangun negaranya sendiri,” kata wartawan senior itu.


"Revolusi Pengetahuan, Kemiskinan, dan Politik"
Jumat, 27 Februari 2009, 00:34 WIB
ARY MOCHTAR PEDJU, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Depdiknas.

”Deng Xiao Ping and his allies identified technological progress as key to modernization, a ticket to military power and to economic growth and prosperity” (Oded Shenkar, The Chinese Century, Wharton School Publishing, 2006).

Tulisan ”Iptek, Politik, dan Politisi” (Ninok Leksono, Kompas, 25/2) amat mengena bila diperhatikan program-program dan iklan parpol/politisi di TV dan media lain yang tak pernah menyinggung topik iptek. Acara-acara itu mengesankan ilmu pengetahuan dan teknologi tak terkait masalah-masalah kemiskinan, ledakan penduduk, kesehatan, energi, lingkungan yang rusak, pemanasan bumi, jender, bahkan politik!


"Indonesia Unggul, Mungkinkah?"
Jansen H Sinamo
Sabtu, 10 Desember 2005

Jadi, tak ada keunggulan jika orang pekak terhadap panggilan Suara Tuhan, Suara Rakyat, atau Suara Ibu Pertiwi. Menjadi tegas pula, fondasi segala prestasi-keunggulan-keakbaran adalah spiritualitas: nurani yang jernih, hati bening, akal budi yang cerah.

Korea Selatan pernah luluh lantak seusai Perang Korea, kini tampil gagah di serambi depan bangsa-bangsa maju. Apa rahasianya? Samuel Huntington dalam Culture Matters (2000) memberi jawaban tegas: ..


"Sains, dan Pendidikan China Vs Kita"
Ary Mochtar Pedju
Kompas 24 November 2005

”Since 1978, China has been the world's most successful economy…. The engines of growth are still running strong…. The basic reason for the growth is specifically adopting the technologies of the leading innovating countries” (Jeffrey Sachs, The End of Poverty, 2005).

Pada dasarnya Sachs kagum dengan pembangunan di China yang dalam 20 tahun dapat mengurangi kemiskinan penduduknya lebih dari satu miliar, dari 64 persen (1981) menjadi 17 persen (2001).


"Indonesia, Korsel, dan Visi 2030"
Syamsul Hadi Direktur Eksekutif Centre for International Relations Studies (CIReS) FISIP-UI. Kamis 3 Mei 2007.

Keberhasilan Korsel untuk menjadi anggota OECD pada tahun 1996 merupakan pengakuan keberhasilan pembangunan negeri itu, yang mendudukkannya sejajar dengan negara-negara yang lebih dulu maju. Indonesia maupun Korsel sama-sama merdeka seusai Perang Dunia II. Memiliki kekayaan alam yang minim dibandingkan dengan Indonesia, infrastruktur ekonomi warisan Jepang di Korsel bahkan hancur akibat Perang Korea 1952-1954. Mirip Indonesia, Korsel baru berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi sejak tahun 1960-an saat Jenderal Park Chung-hee duduk di tampuk kekuasaan.


"Dana Minim, Unggul di TI"
SMA Plus PGRI Cibinong
Kompas, Rabu 6 September 2006

Sejak 2002, SMA PGRI Cibinong memberlakukan metode pembelajaran kuantum, pembelajaran yang menyenangkan dan menempatkan murid sebagai pusat dalam proses pembelajaran. Siswa diberi ruang bebas berekspresi, diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat seluas-luasnya, dan ceramah guru dibatasi.

"Mengubah guru bukan perkara yang gampang. Tiga bulan pertama kami menghadapi tantangan yang luar biasa," kata Basyarudin.

Ruang kelas yang kaku tidak ada lagi. Dinding-dinding kelas dilukis dengan gambar-gambar pemandangan. Bangku dan meja kursi biasa digeser ke sana kemari untuk diskusi. Bangku- bangku beton di bawah pepohonan pun menjadi tempat belajar. Bahkan kantin sekolah juga sering dipakai untuk belajar dan diskusi kelompok.


"Rahasia Sekolah Bermutu, Murah, dan Menyenangkan"
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Kompas Rabu, 23 Maret 2005

BILA pada umumnya anak-anak merasa bergembira bila sekolah libur atau pulang lebih awal, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah, justru paling susah bila disuruh pulang dari sekolah. Padahal, jam belajar di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah lebih panjang dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain.

MASUK enam hari dalam seminggu, sekolah itu dimulai pada pukul 06.00 dan baru berakhir pada pukul 13.30. Jam belajar di sekolah yang cukup panjang itu rupanya belum cukup memuaskan bagi murid-murid sekolah itu.


"Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan 'Ngelmu'"
Senin, 14 Juli 2008, 01:28 WIB
Oleh Rikard Bagun

Ibarat burung malam minerva, yang dijadikan simbol kebajikan dalam mitologi Yunani karena ketajaman indra penglihatannya menembus pekatnya kegelapan malam, kaum intelektual dengan ketajaman visinya dituntut menjadi sumber pencerahan di kegelapan zaman.


"Resolusi"
L. Wilardjo, Guru Besar Fisika UK Satya Wacana
Kompas, 2 Januari 2006.

Dengan semangat bushido dan tekat samurainya, bangsa Jepang menggarap Restorasi Meiji yang dicanangkan di masa bertakhtanya Kaisar Matsuhito.

Jepang tak mau kalah maju dengan Barat. Segala daya dan dana dikerahkan untuk menimba iptek dari Eropa. Dari sebuah negara tertutup yang diwarnai persaingan berdarah di antara para shogun penguasa perang (warlords) yang dijumpai Komodor Perry di dasawarsa awal, abad ke-19, Jepang muncul sebagai negara modern yang sejajar dengan negara-negara Barat yang maju.



Dana Minim, Unggul di TI, SMA Plus PGRI Cibinong (2-habis)
Rahasia Sekolah Bermutu, Murah, dan Menyenangkan, SMP Alternatif
Qaryah Thayyibah
Resolusi, L. Wilardjo

6 comments:

Shaw Lydhanson said...

Salam...

Maaf apabila saya terlalu berada diluar batas, tapi sungguh hati tak bermaksud sama sekali tuk menyimpang atau mengelak dari belakang.
Mas Eko, saya mengiklankan Blog Mas Eko ini pada Traffic Surfing saya dengan harapan dapat dilihat lebih banyak masyarakat luas dari seluruh dunia, saya mohon izinnya, apabila tidak diperkenankan maka saya akan membatalkannya.
Sekali lagi saya mohon maaf.

Satu hal yang saya kurang mengerti dari Blog ini adalahh, mengapa harus ada setiap hal yang menyangkut materi dan kekelaman yang lain untuk bersaing? Mungkin saya sendiri yang kurang paham...^^

Sekali lagi saya mohon maaf, Blog ini sunguh blog yang penuh akan ilmu pengetahuan dan informasi-informasi menarik.

Terima Kasih...
Salam

Eko Laksono said...

Hello Shaw Lydhanson. sebenarnya tulisan ttg hal spt intan yang mahal atau mobil keren bukan untuk materialisme itu sendiri. Tujuan sebenarnya adalah untuk mempopulerkan ilmu pengetahuan, spt tentang partikel-partikel pembentuk segala sesuatu di alam atau tentang teknologi baru yang bisa memajukan dan mensejahterakan manusia. Dari hal-hal yang menarik masyarakat kebanyakan kita akan mengajak mereka untuk belajar menyelami dan mencintai ilmu. Dan bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi itu sendiri bisa menjadi sarana untuk makin membuka mata kita terhadap keajaiban alam semesta, dan akhirnya, kemahabesaran Allah SWT. Kira-kira seperti itu. Mohon bisa dimaafkan seandainya ada kesalahpahaman.

(dan senyumnya udah sampai kok ^_^, trims ya. EL).

Shaw Lydhanson said...

Salam...

Sungguh hati tak bermaksud untuk memilih. Maaf mungkinbenar-benar tak sejalan, tapi saya juag minta maaf karena sungguh tak bisa mengungkapkan yang sesungguhnya.
Maksud saya bukanlah hal yang menyangkut materi seperti itu, Intan yang indah serta mahal dan mobil-mobil yang keren itu sendiri, saya sendiri juga mengeti bahwa yang demikian itu dengan sendirinya akan mengarahkan kita akan kebersaran yang maha yang maha kuasa, yang mana menjadi sebuah penggerak yang besar dibalik energi-energi besar yang menggerakan segalanya, Allah SWT. Mungkin maksud saya disini adalah tentang kekelaman materi itu sendiri yang mungkin dapat membuat setiap hal yang sama bersaing untuk menjadi berbeda dengan dasar yang sungguh menyimpang, seperti kemuakan akan kemunafikan itu sendiri yang saya lihat...
sering terjadi terutama dalam masyarakat sekitar saya.
Sebenarnya juga tidak salah untuk menjadi setiap hal yang beda, karena perbedaan akan mengunci satu sama lain.
Sekiranya mohon maaf atas ketidak tahuan saya yang begitu banyak ini, saya sungguh tak bermaksud untuk menyinggung kesalah pahaman tersebut.
Mungkin Mas Eko bisa menjelaskannya kepada saya!

Terima Kasih.
Mungkin kan kukirimkan lagi salam beserta senyum tuk sekali lagi mempererat tali silaturahmi... :)
SL

Eko Laksono said...

Halo Shaw,
Terimakasih atas pertanyaannya yang baik sekali. Saya kira bahwa materi dan ilmu itu memang bisa membawa kita ke 2 hal yang berbeda, bahkan berlawanan, yang satu menuju Allah SWT, tapi juga bisa membawa kita ke kesombongan dan kemunafikan. Tapi kuncinya sederhana, yaitu agama, dan proses pembelajaran moral yang unggul. Bagaimana masyarakat bisa menjadi masyarakat yang produktif, sejahtera (karena Nabi Muhammad juga kaya-raya), dan mencintai ilmu tapi moralnya tetap baik. Dengan pendidikan dan pembelajaran agama yang unggul, masyarakat akan bisa terjaga dan unggul keimanannya. Untuk itu para pemimpin dan tokoh agama perlu memberi inspirasi yang baik dan strategis sehingga masyarakatnya akan lebih fokus pada kebaikan yang timbul dari kemajuan ilmu dan ekonomi dan menjaga agar masyarakatnya tidak tergoda materialisme. Materi sendiri tidak kelam, karena itu semua ciptaan Allah dan banyak kebaikan bisa timbul daripadanya. Yang agak kelam biasanya adalah hati manusianya (seperti membuat materi menjadi materialisme). Tapi tentu hati manusia bisa diperbaiki dan diinsyafkan.

Memang memprihatinkan apa yang terjadi dengan dunia sekarang ini, tapi kalau kita ingin dunia berubah lebih baik, kitalah yang harus lebih dulu berubah. Kita bisa menjadi pribadi yang lebih unggul dan nantinya kita bisa sedikit demi sedikit membawa pengaruh yang baik pada sekitar kita. Kalau diniatkan dengan sungguh-sungguh pastilah Allah akan memberikan jalan. Teruslah belajar, jadilah makin unggul, dan sebarluaskan.

Salam hangat, Eko Laksono.

Shaw Lydhanson said...

Terima kasih Mas Eko!!!
Saya sungguh berterima kasih atas penjelasannnya, blognya sungguh luas, saya belum sempat menafsirkan semuanya... ^^
Hahaha...
Nanti jika saya ada pertanyaan lagi kiranya mas Eko bisa tidak keberatan untuk menjawabnya...^^
Terima Kasih

Eko Laksono said...

Trims juga Shaw